Apa itu DevOps?

devops

Apa itu DevOps, Apa hubungannya dengan DevOps Engineer? Lalu apa hubungan keduanya?

Kita kupas terlebih dahulu dari mana kata DevOps berasal, kata tersebut merupakan gabungan kata antara Developer dan Operation. Nah apa itu Developer dan Operation?

  • Developer adalah seseorang yang bertugas untuk membuat dan mengerjakan sebuah fitur/produk aplikasi menggunakan bahasa pemrograman tertentu. sedangkan
  • Operation adalah seseorang yang bertugas untuk memelihara aplikasi yang telah dibuat agar dapat berjalan di production.

Apa itu DevOps?

Karena merupakan gabungan dari dua kata yaitu Developer dan Operation, apakah itu berarti orang yang menguasai keduanya? Jawabannya bukan, DevOps merupakan sebuah kultur untuk menyatukan keduanya agar keduanya dapat berkolaborasi dengan baik. Dengan terciptanya kolaborasi yang baik dapat membuat membuat siklus pengembangan aplikasi menjadi lebih mulus.

Pada beberapa kasus, Ia tidak hanya terikat pada Developer dan Operation, tapi semua orang yang terlibat dalam siklus pengembangan aplikasi. Biasanya setiap perusahaan memiliki tim yang berbeda, namun seringkali terdapat Infrastructur Engineer, Security Engineer, QA Engineer, dan posisi-posisi lain.

Dalam praktiknya DevOps menggunakan tool untuk melakukan otomatisasi dan mengintegrasikan setiap proses. Dengan begitu semua orang yang terlibat dalam siklus pengembangan aplikasi dapat membangun, menguji, dan merilis aplikasi lebih cepat dan andal.

Kenapa DevOps ini muncul?

DevOps ini muncul karena Developer dan Operation tidak dapat berkolaborasi dengan baik. Pada saat itu Agile tidak dapat menyelesaikan masalah ini, karena Agile hanya menyelesaikan gap antara Developer dan Customer.

Pada tahun 2008, Andrew Clay dan Patrick Debois mendiskusikan mengenai kekhawatiran mereka terhadap Agile yang memiliki kekurangan dan ingin menyelesaikan permasalahan ini, sampai akhirnya Ide mengenai DevOps ini muncul.

Lalu Ide tersebut perlahan mulai menyebar setelah acara DevOpsDays yang digelar di Belgia pada 2009, dan sangat populer bahkan hingga saat ini.

Masalah Developer dan Operation

Apa itu DevOps?

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Developer bertugas untuk membuat sebuah aplikasi atau mengerjakan sebuah fitur, setelah selesai, Operation mengambil alih dan men-deploynya ke Production.

Lalu Operation menerima aplikasinya, dan men-deploynya ke Production. Masalah terjadi ketika fitur atau aplikasi yang di-deploy bermasalah, Seringkali ketika Operation tidak menemukan masalah di infrastruktur atau Server, mereka akan langsung menduga bahwa masalah yang terjadi disebabkan oleh aplikasi atau fitur yang dibuat Developer.

Dan ketika Developer tidak menemukan masalahnya, mereka akan balik menyalahkan Operation. Di sinilah konflik terjadi, gap di antara keduanya inilah yang menjadi masalah.

Keduanya bekerja di sisi yang berbeda, dan bekerja masing-masing. Banyak hal bisa terjadi di production, semisal aplikasi membutuhkan library tertentu yang tidak tersedia di production, atau bisa juga karena perbedaan versi tool yang digunakan, dan lain-lain.

Tidak adanya kolaborasi membuat masalahnya tidak pernah selesai. Oleh karena itu, membutuhkan sebuah kultur yang dapat mengatasi masalah ini.

Apa itu DevOps Engineer?

Mungkin Anda sering melihat sebuah perusahaan mencari posisi ini, kenapa ada posisi yang bernama DevOps Engineer? Apa benar posisi ini ada, karena pada hakikatnya ini adalah kultur bukan posisi pekerjaan.

Ada banyak sekali perdebatan mengenai ini, dan banyak yang mengatakan tidak ada istilah yang bernama “DevOps Engineer”. Selain itu, banyak kesalahpahaman lain, yang membuat maksud dari DevOps ini semakin rancu.

Namun, banyak perusahaan menggunakan istilah tersebut untuk mencari profesional yang dapat membantu memecahkan kompleksitas pada pengembangan aplikasi, bahkan permintaanya sangat tinggi.

Biasanya perusahaan mencari profesional yang mampu memperbaiki masalah seperti berikut.

  • Mengurangi gap di antara Developer dan Operation atau tim lain yang terlibat dalam pengembangan aplikasi.
  • Menghilangkan adanya silos atau setiap tim bekerja masing-masing dan tidak mau bertukar informasi..
  • Memastikan siklus pengembangan aplikasi dapat berjalan dengan mulus.
  • Memastikan fitur/aplikasi dapat ter-deliver dengan cepat, yang biasanya mengandalkan tool automasi.

Pada poin di atas hanya beberapa masalah yang sering terjadi, dan biasanya tiap perusahaan memiliki kebutuhan yang berbeda.

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut, silakan kunjungi Cara Menjadi DevOps Engineer.

Semoga bermanfaat 🙂

 

5 Komentar
  • relate banget, sering banget nih saya berantem sama developer, mereka kadang suka bilang di lokal jalan kok. tapi ga mungkin juga ngehire devops engineer karena perusahaan kecil

    apa bisa nyelesain masalah gitu tanpa devops engineer atau bisa ga devops freelance

  • pernah berantem sama sysadmin, sysadminnya nyalahin, padahal mereka yang salah. dah dijelasin padahal harus pake nodejs versi sekian 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *